Senin, 14 September 2009

PINTU IBLIS


Iblis adalah musuh bebuyutan manusia, yang diawali sejak Nabi Adam berada di surga. Akibat godaan iblis Adam harus rela meninggalkan surga bersama Hawa. Allah berfirman :

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (Al-Baqarah : 36)



Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al-A'raf: 17).

Berdasarkan ayat tersebut di atas, dengan tegas setan menyatakan bahwa akan menggoda dengan berbagai cara memukul dan menyerang manusia dari segala arah, sehingga manusia tak berdaya dan menjadi kufur kepada Allah. Diingatkan agar umat Islam tidak mudah mengikuti langkah-langkah setan Allah berfirman:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168).



Banyak cara yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia :



Pertama : Kemiskinan, sehingga manusia menjadi kikir Allah berfirman :

Artinya : Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (Al-Baqarah: 268)

Kedua : Menyuruh kepada kejahatan, sehingga manusia lupa kebaikan.



Ketiga : Menciptakan permusuhan di antara sesama manusia, sehingga konflik dan perang terjadi di mana-mana Allah berfirman :

Artinya : Dan diantara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (Al-Maaidah: 14).

Keempat : Meniupkan angan-angan kosong, sehingga manusia malas berusaha dan bekerja keras, Allah berfirman :

Artinya : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Itulah berbagai tipu daya setan untuk mengganggu dan menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan. Dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din, Imam Ghazali menggambarkan hati orang mukmin ibarat sebuah benteng, sedangkan setan ibarat musuh yang akan merobohkan benteng itu. Maka untuk menjaga dan menyelamatkan benteng itu, kata Ghazali, orang mukmin harus menutup semua jalan masuk atau akses menuju benteng, sehingga setan tak dapat mendekat dan menguasainya. Namun, lanjut Ghazali, tak mungkin seseorang bisa menutup akses ke benteng itu bila tidak mengetahui jalan masuk atau pintu-pintunya. Ini berarti, tugas pertama yang harus dilakukan adalah mengenali pintu-pintunya, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh tidak bisa mendekat karena kehilangan akses. Di antara pintu-pintu yang harus dikenali itu, menurut Ghazali, adalah pintu amarah dan syahwat, pintu dengki dan iri hati, pintu makan minum secara berlebihan, pintu cinta dunia, pintu tergesa-gesa, dan pintu buruk sangka kepada sesama umat Islam. Dalam ilustrasi lain, Ghazali menggambarkan setan seperti anjing kelaparan yang selalu mendekat. Kalau hati kita kotor, itu merupakan ''santapan setan'' setan akan terus menyerang. Setan tidak akan lari hanya dengan gertakan atau dengan membaca ta'awwuz atau hawqalah. Tapi, kalau hati kita bersih, maka dengan hanya menyebut asma Allah, ia sudah lari terbirit-birit. Tipu daya setan sesungguhnya tidak berpengaruh bagi orang takwa yang jiwa dan hatinya bersih. Allah berfirman :



Artinya : Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (Al-Nahl: 99).



Semoga kita mampu menutup segala yang akan menjadi pintu masuknya setan ke dalam diri kita, sehingga setan mengalami kesulitan apabila akan mengakses diri kita, karena kita akan senantiasa menjadi orang-orang yang bertaqwa dan mempunyai jiwa serta hati yang bersih.

Disarikan dari Buletin Pengajian:

"Fastabiqul Qairaat"

Masjid "Al-Amin" Genteng, Bwi



MENOMOR SATUKAN ALLAH HARUS NYATA

Oleh: Hariri, Ka. Tu SMA Muha Genteng

Tersebutlah seorang ahli ibadah bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tingggal di sebuah kampong terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Isteri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya cerdas.

Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur yang luas dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yang bergantung kepadanya. Namun, Nidzan al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan hidupnya seperti itu.

Salah seorang anaknya pernah bertanya, "mengapa ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah ayah mampu?"

"Ada beberapa sebab mengapa ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil, " jawab sang sufi yang tidak terkenal itu.

"Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-hari Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Sang penghuni terlepas dari masyarakatnya, dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah.'

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya di dalam hati. Apalagi ketika sang ayah melanjutkan argumentasinya.

"Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lain."

"Ketiga, kami dulu Cuma berdua, ayah dan ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Bila ayah dan ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?" Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polo situ. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetsapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab, banyak hartawan lain yang hanya bias menghitung-hitung kekayaannya dalam lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal, hakikinya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudian, anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan, biaya sebesar itu kalau kubangunkan rumah-rumah kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma bias terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahluknya. Dan, dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, unutk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja." Sungguh indah dialog nidzam dengan anaknya di atas. Darti kisah itu kita bias merasakan bahwa kepribadian akidah di dalam keluarga akan berjalan baik jika orang tua langsung menerapkan pemahaman akidah yang diyakininya dalam kehidupan nyata. Nyata, karena akidah yang intisarinya adalah cintai dan menomorsatukan Allah Subhanahu wa Ta'ala diatas segalanya, tampak sangat jelas dalam sikap dan pola hidup Nidzam. Karena nyata keteladananya, sang anak pun mudah tersentuh. Dengan kata lain, proses pembinaan akidah yang dilakukan Nidzam kepada anaknya benar-benar terjadi secara efektif. Kalau keterampilan membina akidah yang efektif itu bias kita latih secara intensif, rasanya bukan mustahil kita bias seperti yang terjadi di masa Umar bin Khatttab. Seorang anak yang akidahnya mengagumkan Umar, pasti lahir dari penempaan yang luar biasa dari orang tuanya. Inilah gambaran kekokohan akidahnya.

Suatu hari Umar bin Khattab melihat seorang anak gembala miskin dengan pakaian sangat sederhana sedang menggembalakan kambing yang amat banyak milik majikanya. Umar kemudian bertanya, "Nak, bolehkah aku membeli kambing yang sedang kau gembalakan itu satu ekor saja?"

Si anak gembala menjawab, "Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku. Aku tidak boleh menjualnya."

Umar membujuknya lagi, "Kambing itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu jumlahnya? Apakah dia suka memeriksa dan menghitungnya?"

Anak itu menjawabnya dengan mantap, "Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya. Dia tidak tahu berapa kambing yang mati dan berapa yang lahir. Dia tidak pernah memeriksa dan menghitungnya."

"Kalau begitu hilang satu ekor kambing, majikanmu tidak akan tahu. Ini uangnya, terimalah! Ambil saja buat kamu untuk membeli baju atau roti, "Desak Umar untuk mengujinya. Namun, anak gembala itu tetap ytidak terbujuk dan menampik uang yang disodorkan umar.

Umar kemudian menyambung, "kambing itu amat banyak. Majikan kamu tidak tahu jumlahnya. Kalau kamu jual satu, majikan kamu tidak akan tahu. Di sini juga tidak ada orang lain. Hanya ada aku dengan kamu. Tidak ada orang lain yang tahu." Anak itu kemudian dengan tetap tegar menjawab, ‘Memang tidak ada orang lain di sini. Tapi dimana Allah? Allah Maha Tsahu. Allah menyaksikan semua yang terjadi."

Mendengar jawaban itu, Umar bin Khattab, amirul mukminin yang gagah perkasa tersebut mengais dan mendekap anak gembala itu dengan penuh kasih saying.

Di masa Rasulullah SAW, pendidikan akidah untuk senantiasa mementingkan Allah SWT dan Rasulnya bias kita lihat dari keluarga Anas bin Malik. Suatu hari ketika Anas terlambat pulang kerunmah karena urusannya engan Rasulullah SAW, ibunya bertanya, "Apa yang mnyebabkan engkau terlambat?" "Rahasia" jawab Anas Anak itu tidak membuka rahasia itu kepada ibunya. Sang ibu pun berkata, "Jangan sampai engkau buka rahasia Rasulullah kapada siapa pun."

Sejarah mencatat bagaimana seorang anak yang telah ditanamkan akidah begitu kuat di dadddanya kukuh memegang janji kepada sang ibu untuk tidak berbohong. Alkisah, ketika anak tersebut akan bepergian jauh, ia diingatkan lagi oleh sang ibu akan janjinya untuk tidak berbohong.

Sesampai di kota tujuan, sang anak dihadang gerombolan penyamun yang merampas semua barang-barang bawaannya.

"Apa lagi yang kamu bawa? "Tanya seorang penyamun setelah merampas bawaannya. "Uang empat puluh dinar." Namun, gerombolan itu menyangka anak itu hanya main-main. Lalu mereka pergi meninggalkannya. Ketika bertemu dengan penyamun yang lain dan di Tanya hal serupa, bocah itu kembali menjawab, "Uang empat puluh dinar."

Mendengar jawaban tersebut, si penyamun membawa sang anak ke penginapannya. "Apa yang kamu bawa?" Tanya sang pimpinan. "Uang empat puluh dinar." Setelah digeledah ternyata gerombolan itu tidak menemukannya. Mereka menyangka anak itu memang hanya omong kosong. Namun, saat mereka mau pergi, si anak berkata sambil menunjukkan lipatan di balik bajunya. "Uang itu saya simpan di sini." Pemimpin gerombolan ini terheran-heran dengan kejujuran si anak. "Apa yang mendorongmu berkata jujur?" "Ibu menyuruh saya berjanji untuk tidak berbohong. Saya takut menghianati janji saya itu." Mendengar ucapan anak ini, pemimpin penyamun pun sadar. Lalu ia memerintahkan kepada semua anak buahnya mengembalikan barang-barang yang mereka rampas. "Ssaya bertobat kepada Allah karena ucapanmu wahai anakku. Kini engkau pemimpin kami dalam pertaubatan kepada Allah" kata pemimpin penyamun.

Tobatnya sang pemimpin diikuti juga oleh semua anak buahnya. Anak itu kelak dikenal sebagai ulama besar di zamannya. Ia bernama Abdul Qadir Al-Jailani.

RAHASIA PUASA

Ketahuilah bahwa dalam puasa itu ada bagian tertentu yang tidak ada dalam ibadah yang lain, yaitu pengaitannya kepada Allah Taala yang telah berifman dalam hadis qudsi yang artinya, "Puasa itu bagiku dan aku memberi balasan dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).

Pengaitan ini sudah cukup sebagai bukti tentang kemuliaan puasa, sebagaimana keutamaan baitullah (Kakbah) yang dikaitkan kepada-Nya, dalam firman-Nya, Dan sucikanlah rumah-Ku." (Al-Hajj: 26).

Kelebihan puasa itu dapat dilihat dalam dua makna sebagai berikut.

Puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain sehingga tidak mudah disusupi riya. Puasa sebagai cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena, sarana yang dipergunakan musuh adalah sahwat. Sahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan sahwat tetap subur, maka setan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tetapi, jika sahwat ditinggalkan, jalan ke sana juga menjadi sempit. Dalam masalah puasa banyak terdapat riwayat yang menunjukkan keutamaannya, dan riwayat-riwayat ini cukup terkenal serta bertebaran di berbagai kitab.


Hal-Hal yang Dianjurkan dalam Puasa

Dianjurkan makan sahur dan mengakhirkannya, segera berbuka puasa dengan makan kurma. Dianjurkan banyak-banyak bersedekah pada bulan Ramadan, melakukan hal-hal yang makruf, dan mengikuti apa yang biasa dilakukan Rasulullah saw. saat beruasa. Selain itu, dianjurkan pula untuk banyak-banyak membaca Alquran, itikaf di masjid pada bulan Ramadan, apalagi pada sepuluh hari yang terakhir dan meningkatkan kesungguhan pada hari-hari ini. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadis Aisyah r.a., dia berkata, "Jika Nabi saw. memasuki sepuluh hari (yang terakhir pada bulan Ramadan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan waktu malamnya, dan membangunkan keluarganya."


Ada dua hal yang bisa dipahami dari kebiasaan beliau tersebut di atas.

1. Tidak bercampur dengan istri.

2. Merupakan ungkapan tentang kesungguhan dalam beramal. Para ulama berpendapat bahwa

sebab kesungguhan beliau pada sepuluh hari yang terakhir ini karena hendak mencari Lailatul Qadar.


Rahasia-Rahasia Puasa dan Adab-adabnya

Puasa mempunyai tiga tingkatan makna sebagai berikut.


1. Puasa secara umum ialah menahan perut untuk tidak makan dan minum serta menahan

kemaluan untuk melampiaskan sahwat.

2. Puasa secara khusus ialah menahan pandangan, lidah, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.

3. Puasa secara khusus dari yang khusus ialah puasa hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran yang menjauhkan dari Allah serta menahan diri dari hal-hal selain Allah secara keseluruhan.



Di antara adab puasa secara khusus adalah menahan pandangan mata, menjaga lidah dari ucapan-ucapan yang diharamkan dan dimakruhkan atau dari ucapan yang tidak bermanfaat, serta menjaga seluruh anggota badan. Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa tidak meninggalkan perkatan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)."

Di antara adab orang yang berpuasa yaitu janganlah memenuhi perutnya dengan makanan pada malam hari. Tetapi, hendaknya dia makan sekadarnya saja. Sebab, tidaklah anak Adam itu mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Selagi pada petang harinya dia sudah merasa kekenyangan, maka waktu-waktu berikutnya sudah bisa memanfaatkannya. Begitu juga jika terlalu kenyang pada waktu sahur, maka waktunya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal hingga mendekati waktu zuhur. Sebab, terlalu banyak makan hanya akan mengakibatkan malas dan lemas hingga hilanglah tujuan puasa gara-gara terlalu banyak makan. Sebab, tujuan dari puasa ialah agar dia merasakan lapar dan meninggalkan hal-hal yang menggugah selera.

Adapun puasa sunah dikerjakan pada hari-hari yang memiliki keutamaan, yang putarannya berlaku untuk setiap satu tahun, seperti puasa Asyura, sepuluh Zulhijah, dll. Sebagian ada yang putarannya sebulan, seperti puasa tiga hari setiap bulan, bisa sehari pada permulaan bulan, sehari pada pertengahan bulan dan sehari pada akhir bulan. Tetapi, yang paling baik adalah pada ayamul-bidh (tgl 13, 14, 15). Sebagian lagi putarannya setiap minggu, seperti puasa Senin dan Kamis.

Puasa sunah yang paling baik adalah puasa Nabi Daud a.s., yaitu sehari puasa sehari buka. Puasa Daud ini mengandung makna. Memberikan hak kepada diri pada saat tidak berpuasa, lalu memberikan hak ubudiyah kepadanya pada saat berpuasa. Sehingga, di sini ada penyatuan antara hak dan kewajibannya, dan ini merupakan cermin keadilan.

Saat tidak berpuasa merupakan hari syukur, dan saat puasa merupakan hari sabar. Karena, iman itu terdiri dari dua bagian: syukur dan sabar. Tentunya puasa ini akan membuat jiwa terasa lebih berat dalam mujahadah.



Adab Puasa yang Khusus

Orang yang diberi kecerdasan akal tentu bisa mengetahui apa maksud dari puasa. Karena itu, kecerdasan dan pengetahuannya ini akan mendorongnya untuk membebani diri sendiri dengan amalan yang tidak membuatnya lemah, lalu meninggalkan apa-apa yang sebenarnya lebih utama.
Ibnu Mas'ud r.a. adalah orang yang tidak banyak puasa. Dia berkata, "Jika aku berpuasa, maka badanku menjadi lemah dan tidak kuat mendirikan salat. Sementara, aku lebih memilih salat daripada puasa."
Ada pula yang jika berpuasa membuat badannya lemah sehingga tidak bisa membaca Alquran. Karena itu, dia lebih sering tidak berpuasa agar bisa banyak-banyak membaca Alquran. Setiap orang tentu lebih mengetahui keadaan dirinya.

Semoga puasa pada tahun ini merupakan puasa yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga kita, dan bagi seluruh saudara-saudara sesama muslim. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga seluruh amal perbuatan baik kita selama diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amien.



Sumber: Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy





ucapan hari raya
Mawar berseri dipagi Hari
Pancaran putihnya menyapa nurani
Sms dikirim pengganti diri
SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR BATHIN

Sebelum Ramadhan pergi
Sebelum Idul fitri datang
Sebelum operator sibuk
Sebelum sms pending mulu
Sebelum pulsa habis
Dari hati ngucapin MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh,
Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung,
Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN.
Mohon Maaf lahir Dan batin

Menyambung kasih, merajut cinta, beralas ikhlas, beratap DOA.
Semasa hidup bersimbah khilaf & dosa, berharap dibasuh maaf.
Selamat Idul Fitri

Melati semerbak harum mewangi,
Sebagai penghias di Hari fitri,
SMS ini hadir pengganti diri,
Ulurkan tangan silaturahmi.
Selamat Idul Fitri

Sebelas bulan Kita kejar dunia,
Kita umbar napsu angkara.
Sebulan penuh Kita gelar puasa,
Kita bakar segala dosa.
Sebelas bulan Kita sebar dengki Dan prasangka,
Sebulan penuh Kita tebar kasih sayang sesama.
Dua belas bulan Kita berinteraksi penuh salah Dan khilaf,
Di Hari suci nan fitri ini, Kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Andai jemari tak sempat berjabat.
Jika raga tak bisa bersua.
Bila Ada kata membekas luka.
Semoga pintu maaf masih terbuka.
Selamat Idul Fitri

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.”

Walopun operator sibuk n’ sms pending terus,
Kami sekeluarga tetap kekeuh mengucapkan
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin

Bila kata merangkai dusta..
Bila langkah membekas lara…
Bila hati penuh prasangka…
Dan bila Ada langkah yang menoreh luka.
Mohon bukakan pintu maaf…
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Fitrah sejati adalah meng-Akbarkan Allah..
Dan Syariat-Nya di alam jiwa..
Di dunia nyata, dalam segala gerak..
Di sepanjang nafas Dan langkah..
Semoga seperti itulah diri Kita di Hari kemenangan ini..
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin

Waktu mengalir bagaikan air
Ramadhan suci akan berakhir
Tuk salah yg pernah Ada
Tuk khilaf yg sempat terucap
Pintu maaf selalu kuharap
Met Idul Fitri

Walaupun Hati gak sebening XL Dan secerah MENTARI.
Banyak khilaf yang buat FREN kecewa,
Kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS kan dari ROAMING dosa
Dan Kita semua hanya bisa mengangkat JEMPOL kepadaNya
Yang selalu membuat Kita HOKI dalam mencari kartu AS
Selama Kita hidup karena Kita harus FLEXIbel
Untuk menerima semua pemberianNYA Dan menjalani
MATRIX kehidupan ini…Dan semoga amal Kita tidak ESIA-ESIA…
Mohon Maaf Lahir Bathin.

Satukan tangan,satukan hati
Itulah indahnya silaturahmi
Di Hari kemenangan Kita padukan
Keikhlasan untuk saling memaafkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

MTV bilang kalo MO minta maap g ush nunggu lebaran
Org bijak blg kerennya kalo mnt maap duluan
Ust. Jefri blg org cakep mnt maap gk prl disuruh
Kyai blg org jujur Ga perlu malu utk minta maap
Jd krn Mrs anak nongkrong yg jujur, keren cakep Dan baek
Ya gw ngucapin minal aidzin wal faizin , mohon maaf lahir Dan batin ..



HARI RAYA

Hari raya adalah saat berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan kepercayaan terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapatkan anugerah dan ampunan-Nya. Allah Ta 'ala berfirman :

"Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.

Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. " (Yunus: 58).

Sebagian orang bijak berujar: "Tiada seorang pun yang bergembira dengan selain Allah kecuali karena kelalaiannya terhadap Allah, sebab orang yang lalai selalu bergembira dengan permainan dan hawa nafsunya, sedangkan orang yang berakal merasa Senang dengan Tuhannya."

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, kaum Anshar memiliki dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, (yaitu) 'Idul fitri dan 'Idul Adha (HR. Abu Daud dan An-Nasa'i dengan sanad hasan).

Hadits ini menunjukkan bahwa menampakkan rasa suka cita di hari Raya adalah sunnah dan disyari'atkan. Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kepada segenap kerabat dengan berbagai hal yang tidak diharamkan yang bisa mendatangkan kesegaran badan dan melegakan jiwa, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk ta'at kepada Allah.

Adapun yang dilakukan kebanyakan orang di saat hari Raya dengan berduyun-duyun pergi memenuhi berbagai tempat hiburan dan permainan adalah tidak dibenarkan, karena hal itu tidak sesuai dengan yang disyari'atkan bagi mereka seperti melakukan dzikir kepada Allah. Hari Raya tidak identik dengan hiburan, permainan dan penghambur-hamburan (harta), tetapi hari Raya adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Makanya Allah gantikan bagi umat ini dua buah hari Raya yang sarat dengan hiburan dan permainan dengan dua buah Hari Raya yang penuh dzikir, syukur dan ampunan.

Di dunia ini kaum mukminin mempunyai tiga hari Raya: hari Raya yang selalu datang setiap minggu dan dua hari Raya yang masing-masing datang sekali dalam setiap tahun.

Adapun hari Raya yang selalu datang tiap minggu adalah hari Jum'at, ia merupakan hari Raya mingguan, terselenggara sebagai pelengkap (penyempurna) bagi shalat wajib lima kali yang merupakan rukun utama agama islam setelah dua kalimat syahadat.

Sedangkan dua hari Raya yang tidak berulang dalam waktu setahun kecuali sekali adalah:

1. 'Idul Fitri setelah puasa Ramadhan, hari raya ini terselenggara sebagai pelengkap puasa Ramadhan yang merupakan rukun dan asas Islam keempat. Apabila kaum muslimin merampungkan puasa wajibnya, maka mereka berhak mendapatkan ampunan dari Allah dan terbebas dari api Neraka, sebab puasa Ramadhan mendatangkan ampunan atas dosa yang lain dan pada akhirnya terbebas dari Neraka.

Sebagian manusia dibebaskan dari Neraka padahal dengan berbagai dosanya ia semestinya masuk Neraka, maka Allah mensyari'atkan bagi mereka hari Raya setelah menyempurnakan puasanya, untuk bersyukur kepada Allah, berdzikir dan bertakbir atas petunjuk dan syari'at-Nya berupa shalat dan sedekah pada hari Raya tersebut.

Hari Raya ini merupakan hari pembagian hadiah, orang-orang yang berpuasa diberi ganjaran

puasanya, dan setelah hari Raya tersebut mereka mendapatkan ampunan.

2. 'Idul Adha Oiari Raya Kurban), ia lebih agung dan utama daripada 'Idul Fitri. Hari Raya ini terselenggara sebagai penyempurna ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima, bila kaum muslimin merampungkan ibadah hajinya, niscaya diampuni dosanya.

Inilah macam-macam hari Raya kaum muslimin di dunia, semuanya dilaksanakan saat rampungnya ketakwaan kepada Yang Maha Menguasai dan Yang Maha Pemberi, di saat mereka berhasil memperoleh apa yang dijanjikan-Nya berupa ganjaran dan pahala. (Lihat Lathaa'iful Ma'arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 255-258)

PETUNJUK NABI DI HARI RAYA

Pada saat hari Raya 'Idul Fitri, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengenakan pakaian terbaiknya dan makan kurma -dengan bilangan ganjil tiga, lima atau tujuh- sebelum pergi melaksanakan shalat 'Id. Tetapi pada 'Idul Adha beliau tidak makan terlebih dahulu sampai beliau pulang, setelah itu baru memakan sebagian daging binatang sembelihannya.

Beliau mengakhirkan shalat 'Idul Fitri agar kaum muslimin memiliki kesempatan untuk membagikan zakat fitrahnya, dan mempercepat pelaksanaan shalat 'Idul Adha supaya kaum muslimin bisa segera menyembelih binatang kurbannya.

Mengenai hal tersebut, Allah Ta 'ala berfirman :

"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah " (Al Kautsar: 2).

Ibnu Umar sungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar untuk shalat 'Id kecuali setelah terbit matahari, dan dari rumah sampai ke tempat shalat beliau senantiasa bertakbir.

Nabi shallallahu blaihi wasallam melaksanakan shalat' Id terlebihdahulu baru berkhutbah, dan beliau shalat duaraka'at· Pada rakaat pertama beliau bertakbir 7 kali berturut-turut dengan Takbiratul Ihram, dan berhenti sebentar di antara tiap takbir. Beliau tidak mengajarkan dzikir tertentu yang dibaca saat itu. Hanya saja ada riwayat dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, ia berkata: "Dia membaca hamdalah dan memuji Allah Ta 'ala serta membaca shalawat.

Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengangkat kedua tangannya pada setiap bertakbir.

Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah bertakbir membaca surat Al-Fatihah dan "Qaf" pada raka'at pertama serta surat "Al-Qamar" di raka'at kedua.

Kadang-kadang beliau membaca surat "Al-A'la" pada raka'at pertama dan "Al-Ghasyiyah" pada raka'at kedua. Kemudian beliau bertakbir lalu ruku' dilanjutkan takbir 5 kali pada raka'at kedua lain membaca Al-Fatihah dan surat. Setelah selesai beliau menghadap ke arah jamaah, sedang mereka tetap duduk di shaf masing-masing, lalu beliau menyampaikan khutbah yang berisi wejangan, anjuran dan larangan.

Beliau selalu melalui jalan yang berbeda ketika yang terkenal sangat bersungguh-mengikuti sunnah Nabi shallallahu berangkat dan pulang (dari shalat) 'Id.' Beliau selalu mandi sebelum shalat 'Id.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan hamdalah, dan bersabda :

"Setiap perkara yang tidak dimulai dengan hamdalah, maka ia terputus (dari berkah). " (HR.Ahmad dan lainnya).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, ia berkata :

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menunaikan shalat 'Id dua raka'at tanpa disertai shalat yang lain baik sebelumnya ataupun sesudahnya. " (HR. Al Bukhari dan Muslim dan yang lain).

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat 'Id itu hanya dua raka'at, demikian pula mengisyaratkan tidak disyari'atkan shalat sunnah yang lain, baik sebelum atau sesudahnya. Allah Mahatahu segala sesuatu, shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, seluruh anggota keluarga dan segenap sahabatnya.




Jumat, 11 September 2009

PUSAT STUDI ALQURAN
RESENSI BUKU

judul : JILBAB PAKAIAN WANITA MUSLIMAH
Penerbit : Lentera Hati & Pusat Studi al-Quran (PSQ)
Tahun : 2004

Penggunaan jilbab oleh komunitas muslim telah menjadi persoalan yang terus bergulir. Ritmenya satu waktu terdengar ringan, namun tidak jarang menyedot perhatian publik. Di tanah air, sekitar tahun 1990-an penggunaan jilbab di wilayah publik --sekolah, tempat kerja, dan pas photo -- sempat meruncing dan jadi bulan-bulanan bagi kalangan muslim dalam bingkai kehidupan yang pluralistik. Di luar negeri, seperti Prancis dengan pelarangan penggunaan jilbab di wilayah publik akhir-akhir ini, silang-pendapatnya sampai jadi masalah transnasional dan melibatkan komunitas muslim di seluruh dunia.



Persoalan ini bisa dilihat secara simbolik, mengingat sebagian besar pengguna jilbab dalam batas tertentu lebih didorong oleh spirit komunalitas muslim atas 'pengibaran simbol-simbol' keagamaannya. Mungkin mereka tidak lagi berbicara status hukumnya, karena akses dan kapabilitas yang tidak memungkinkan untuk hal tersebut. Inilah yang membedakannya dengan kelompok cerdik-cendekia yang berusaha melihat problematika jilbab secara jernih dan argumentatif-kritis.



Secara embriorik buku ini hadir dari 'desakan' pada penulis buku untuk berketetapan hati berpendapat tentang jilbab itu. Latarbelakang ahli tafsir yang akrab dengan ragam interpretasi pada gilirannya menyebabkan sebagian kalangan, menganggap pendapat M. Quraish Shihab tentang Jilbab 'tidak tegas'. Karenanya lahirlah buku ini, meski dalam prakteknya kalau kita baca tidak sepenuhnya bisa menjawab 'desakan' itu sendiri. Karena beberapa pertimbangan kerangka befikir yang disuguhkan oleh penulis bukunya.



Ini terlihat dari anatomi pembahasannya sengaja didesain dengan beberapa pendapat dari masa klasik yang terkesan ketat dan sekelompok cendekiawan kontemporer yang terasa longgar. Dua kutub ini diracik secara apik dan proporsional sedangkan para pembaca dipersilahkan untuk memilihnya mana yang terbaik dan paling mendekati kebenaran. M. Quraish Shihab berusaha menjauhkan diri dari 'keberpihakan mutlak' atas satu pendapat yang dipaparkannya.



Awal pembahasannya adalah definisi pakaian yang ada dalam masyarakat (sesudah maupun sebelum Islam datang), respons Al-Qur’an-hadits tentang pakaian atau batas-batas aurat wanita, plus interpretasi para ulama atas teks-teks agama di atas tadi dalam upaya pengambilan hukumnya (istinbât al-hukm). Secara sistematis bisa diduga, karena diferensiasi definisi, teks, dan interpretasi meniscayakan banyak pilihan yang tidak akan bisa mengikat satu pendapat atas pendapat yang lain. Kalaupun kita menganggap satu pendapat itu lemah, maka di sini disertakan referensi yang cukup memadai.



Saya kira, pendekatan yang dilakukannya diadreskan untuk mereduksi kesan berlebihan yang ditimbulkan oleh satu pendapat. Karena dalam prakteknya, kebebasan memilih mana yang lebih mendekati kebenaran sulit dirasakan. Kerapkali satu pendapat diarahkan secara tendensius dan menanggalkan semangat lautan ragam pendapat yang pasti hadir dalam pencarian produk hukum. Seorang fâkih dan penerima produk hukum, sebenarnya berada dalam 'lingkaran silang pendapat hukum' itu sendiri. Tinggal bagaimana nalar ijtihadi yang digunakannya dalam mengkritisi setiap produk hukum yang diferensial itu.



Dalam buku ini alur yang terlihat, mengingatkan kita pada perbedaan pendapat tentang bagian apa saja yang sebenarnya merupakan aurat perempuan. Karena ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Belum lagi konteks sosio-historis masyarakat Arab yang menjadi kunci karakteristik pakaian jilbab itu sendiri. Hadits-hadits yang mengungkapkan tentang ketentuan pakaian pun tidak kalah peliknya, mengingat diferensiasi keabsahannya dari segi matan (redaksi hadits), maupun sanad-nya (riwayat hadits).



Karenanya, pendapat M. Quraish Shihab sebenarnya tidak beranjak dari yang pernah ditulisnya pada mendio tahun 1990-an, dalam bukunya ‘Wawasan Al-Qur’an’ (MIZAN, Bandung), bahwa wanita yang yang menutup seluruh badannya atau kecuali wajah dan telapak tangannya, telah menjalankan bunyi teks ayat-ayat al-Qur’an bahkan mungkin berlebih. Tapi, lanjutnya, pada saat yang sama kita tidak wajar menyatakan terhadap mereka yang tidak memakai kerudung, atau yang menampakkan setengah tangannya, bahwa mereka secara pasti telah melanggar petunjuk agama. Bukankah Al-Qur’an tidak menyebut batas aurat dan para ulama pun berbeda pendapat ketika membahasnya?



Target yang ingin dicapai adalah sikap yang tidak terburu-buru dalam menanggapi persoalan jilbab. Dengannya diharapkan dapat memahami jalan pikiran semua pihak, yang pada gilirannya tidak saling mengafirkan dan tuduh-menuduh antar sesama. Sepertinya yang lebih baik, apapun yang dipilih dari sekian banyak pendapat itu, adalah memperhatikan pakaian dan tingkah laku kita tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.



Buku ini diperlukan bagi kaum muslimah yang kerap kesulitan untuk menentukan fungsi jilbab. Bisakah menjadi muslimah tanpa berjilbab? atau sudah muslimahkah orang berjilbab? bagaimana pengaruh tertutupnya dengan jilbab atas prilaku sosial-keagamaan dalam masyarakat? Probelmatika inilah menjadikan buku ini begitu penting. Selamat berbeda pendapat!



Ditulis oleh Muhtar Sadili, Staf PSQ
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template